Kamis, 17 Juli 2014

LAILATUL QODAR

Oleh: KH. Maimoen Zubair (Sarang - Rembang)



LAILATUL QODAR (Malam qadr/kemuliaan) adalah malam di mana Allah SWT untuk kali pertama menurunkan wahyu Al-Quran, yakni lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq, kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Peristiwa itu direkam dalam Surat ”Alqadr” ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.” Pada dasarnya Surat Alqadr bukan surah yang turun beriringan dengan Surat Al’alaq, surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

Mayoritas (jumhur) ulama menyatakan bahwa surat itu urutan ke duapuluh lima. Sebagian ulama lain berpendapat surat pertama yang turun saat Rasulullah hijrah ke Madinah.

Namun dalam urutan penyusunan Alquran surat Alqadr diletakkan berurutan dengan Surah Alíalaq. Alíalaq menempati urutan ke 96, dan Alqadr menempati urutan ke 97. Demikian ini untuk memberi kejelasan bahwa pembahasan dalam Surah Alqadr berkenaan dengan malam mulia di mana Alquran untuk pertama kali diturunkan.

Dalam Alquran Lailatul Qodar ini diberi penjelasan dengan sejumlah keistimewaan: pertama dia adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan QS Alqadr [97]: 0 3; kedua, dia adalah malam yang diberkati (mubarakah). QS Addukhon [44]: 03; ketiga dia adalah malam diputuskannya segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi Allah swt. QS Addukhon [44]:04; kelima ia adalah malam di mana para malaikat, dipimpin oleh malaikat Jibril, turun ke bumi atas izin Tuhannya, dengan membawa segala urusan yang besar (pahala-pahala ibadah di malam itu). QS.Alqadr [97]: 04; keenam ia adalah malam penuh kedamaian hingga terbit fajar. QS. Alqadr [97]: 05.

Di sini perlu disampaikan bahwa bacaan yang paling pas adalah Lailatulkadar seperti bacaan dalam Surah Alqadr, bukan Lailatul Qadar sebagaimana lazim dalam ucapan kita sehari-hari. ”Qadr”memiliki makna kemuliaan dan kemurahan (syaraf wa fadhl), diambil dari kata fulaan dzuu qadrin adzÓmin, seseorang yang berkedudukan mulia. Sementara ”qadar” adalah putusan, seperti dalam rangkaian kata ”qadh‚`-qadar”. Pemaknaan ini sejalan dengan penjelasan dalam ayat lain dalam Surah Addukhon, QS.[44]: 03: ”sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. Namun penggunaan kalimat Lailatul Qadar, yakni malam keputusan, tidak sepenuhnya salah, karena pada malam itu Allah memutuskan segala urusan yang penting di sisi-Nya, sebagaimana dalam QS. Addukh‚n/ [44]: 04.

Dua kalimat ini, qadr dan qadar, mengantarkan kita pada pengertian bahwa ibadah di malam itu sangat penting bukan saja karena kemuliaannya (qadr), namun juga karena malam itu Allah SWT. menitahkan amarnya (qadar) untuk putaran satu tahun ke depan. Dengan beribada di malam itu seseorang berharap mendapatkan rahmat-Nya, agar semua amar keputusan yang ia terima merupakan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Titah amar yang tampak secara lahir tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi karena penyikapan yang baik, yakni dihadapi penuh sabar dan tetap berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah swt, Insya Allah justru akan membawa berkah tersendiri untuk kebaikan dirinya.

Kapan Lailatul Qodar?

Alquran tidak menjelaskan setara pasti kapan Lailatulkadar, hanya ada penjelasan bahwa Alquran diturunkan pada malam tersebut: QS. Alqadr/ ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur’an) pada malam kemuliaan.” Dan pada ayat yang lain dijelaskan bahwa Alquran diturunkan pada bulan Ramadan: ”Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” QS. Albaqarah: [02]: 185.

Dari sini lalu disimpulkan bahwa Lailatul Qodar berada di bulan Ramadan, tanpa ada penjelasan definitif di hari ke berapa. Ada sejumlah riwayat mengenai penentuan yang definitif, di antaranya ada yang menyampaikan bahwa Lailatul Qodar jatuh pada hari ke tujuh belas, lalu ada yang menentukan hari ke dua puluh tiga, dua puluh lima, dan dua puluh tujuh.

Dari berbagai riwayat ini disimpulkan bahwa Lailatul Qodar tidak jatuh pada malam yang sama di setiap tahun, namun ia berubah-ubah waktunya. Tahun ini boleh jadi jatuh pada tanggal dua puluh tujuh Ramadan, namun bisa jadi tahun yang akan datang jatuh di tanggal yang berbeda. Demikian ini menurut para ulama disengaja oleh Allah swt agar hambanya tidak hanya rajin beribadah pada satu malam yang telah ditentukan saja.

Namun begitu, ada satu petunjuk dari Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa umumnya Lailatul Qodar jatuh pada sepuluh hari terakhir, dimulai malam ke dua puluh satu. Kata Rasulullah: ”Ia (Lailatul Qodar) berada di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan”. Riwayat lain menyatakan: ”Carilah dengan sungguh-sungguh Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadan). Dan di antara sepuluh hari ini, ada sebuah riwayat yang menekankan untuk mencarinya pada hari-hari ganjil: ”Carilah ia (Lailatul Qodar) di tiap-tiap hari ganjil (dari sepuluh hari terakhir).” Riwayat lain menjelaskan bahwa di antara hari-hari ganjil ini, malam ke dua puluh tujuh paling ditekankan berdasarkan riwayat dari Ubay bin Ka’b: ”Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dirinya, sesungguhnya ia (Lailatulkadar) berada di bulan Ramadan, dan demi Allah saya tahu pada malam apa ia berada, ia berada di malam dimana Rasulullah saw memerintahkan untuk mendirikan ibadah di malam itu, yaitu malam ke dua puluh tujuh.”

Ada dua cara seorang hamba bertaqarrub (mendekat) kepada Allah SWT. Pertama melalui in‚bah, yakni kembali kepada Allah SWT. Ia menghadapkan hatinya secara pelan-pelan, dengan niat yang sungguh-sungguh, menuju cinta hakiki kepada Allah swt. Jalan ini tak bisa dipangkas dalam waktu yang singkat, akan tetapi harus ditempuh melalui jalan yang panjang. Cara ini adalah jalan yang lazim diikuti oleh umumnya hamba-hamba Allah. Berkenaan dengan Lailatulkadar, seorang hamba yang ingin menggapainya sudah harus memulai upayanya sejak hari-hari awal bulan Ramadan, bahkan sebaiknya sejak hari-hari menyambut bulan Ramadan.

Cara yang kedua melalui jalan ijtib, yakni melalui pemilihan dari Allah swt yang dalam hal ini sepenuhnya merupakan rahasia-Nya. Jalan ini menggambarkan bahwa bukan seorang hamba yang mendekat kepada Allah secara langsung, akan tetapi justru Allah yang mengenalkan Dirinya kepada seorang hamba tersebut. Jalan ini sengaja dibuka oleh Allah swt agar seorang hamba tidak kehilangan asa berkomunikasi dengan Allah swt. Hamba-hamba Allah yang pada awal-awal Ramadan tidak sepenuhnya, atau bahkan lalai sama sekali, beribadah kepada Allah swt melalui jalan ini masih punya kesempatan untuk merengkuh Lailatul Qodar.

Dua jalan ini disebutkan dalam Alquran, Surah Asy-Syu’ara [42]:13: Allah memilih kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Dengan memahami dua jalan ini, bisa dikatakan bahwa mereka yang memiliki kesempatan lebih untuk mendapatkan Lailatul Qodar adalah hamba-hamba Allah yang dari sejak awal Ramadan telah kembali kepada Allah dengan banyak beribadah dan berdzikir, namun begitu ada sejumlah hamba-hamba Allah yang secara khusus dipilih-Nya untuk mendapatkan anugerah Lailatul Qodar walau tidak dari awal kembali kepada-Nya.

Dengan demikian, kita dengan arif mengetahui bahwa seorang hamba tak boleh mengandalkan jalan ijtib‚` untuk merengkuh Lailatul Qodar, bahkan untuk itu dia harus memulainya sejak dari awal Ramadan. Karena inilah jalan yang lazim, yang telah menjadi sunnatullah.

Selasa, 01 Juli 2014

TATAKRAMA INDAH BAGI WANITA MUSLIMAH

Nasihat Habib Zein Hafidzhaullah , teruntuk kaum Muslimin dan Muslimat terlebih kepada Ahli Bayt Rasulillah Shallahu alaihi wa sallam, -Hafidzahumullah-



Jaga dan didiklah senantiasa anak perempuan dengan didikan yang Kuat lagi baik, agar ia tumbuh menjadi orang yang mencintai Allah, mencintai Rasul nya, mengenal sejarah perjalanan Hidup Rasulullah, secara sempurna, sesuai dengan pemahaman, pengamalan, dan mengikuti jejak-nya. dan mengenal Para Ahli bayt Rasulillah, dan para sahabat-sahabat nya yang mulia, bersikap sopan kepada mereka, di sertai dengan penjagaan Hati agar tidak terdapat sangkaan yang buruk kepada mereka. menjaga lisan dari memperdebatkan hak-hak mereka atau ragu atas kedudukan mulia mereka.
dan juga mengenal orang-orang yang mengikuti jejak Para sahabat nabi dengan baik (Para tabi'in) berada di atas manhaj mereka, yaitu Ulama-ulama islam.

semuanya itu harus di sertai dengan adab (Tatakrama) di setiap gerak-gerik dan langkah nya. kenalkan mereka tentang Hak-hak islam, adab-adab nya dan hukum-hakam nya. ajari mereka adab cara keluar rumah, adab bersama kawan-kawan nya, adab dalam bertutur kata, disertai dengan bermuroqabah bersama Allah Jalla wa 'Ala.
menjaga pakaian nya senantiasa tertutup dengan sempurna agar terhindar dari pandangan yang tidak di halalakan, terhindar dari pandangan mata orang fasik, dan pandangan orang jahat. Pautkan hati mereka dengan sang penciptanya di setiap masa, terlebih dtempat-tempat yang sunyi, di depan Tv, dan internet, agar supaya tidak berpaling kepada perkara yang melalaikan hati dari Allah, atau terjerumus kepada perbuatan maksiat, atau melihat kepada perkara yang di haramkan, yaitu gambar-gambar tak senonoh berupa gambar-gambar Porno hal itu dapat membutakan dan menghitamkan hati, sehingga di khawatirkan akan tertimpa malapetaka dan musibah. dan akan menarik nya untuk melakukan perbuatan yang keji.- wal iyadzu billah- sehingga Allah Murka dan menimpakan bala' dan siksa dari dzat yang maha perkasa, saat itu penyesalan tiada berguna, jauhkan dan jauhkan perkara ini.

Allah berfirman :

قال تعالى { فليحذر اللذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

’’Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya (Rasul) takut
akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.’’

Ajari mereka merendahkan suara di hadapan Kaum lelaki, di sertai dengan hiasan perilaku yang berbudi, sebab hal itu lebih membuat malu dan lebih berwibawa di hati kaum lelaki.
Peringati mereka bahwa kita tidak boleh meniru-niru Musuh-musuh islam, dan juga meniru-niru perilaku orang-orang Fasik, dan orang -orang bencong, dari orang yang ahli maksiat, suka minum khamer dan perkara haram lain nya.
awas-awasi mereka dari menonton film-film sinetron yang berisi ketelanjangan, pornografi, kebohongan, kefasikan, percampuran antara laki-laki dan perempuan, pencacian, dan perkara haram lain nya. sebab hal itu lebih berbahaya bagi mereka, dan lebih dahsyat penghancuran nya terhadap hati dan ahlak mereka.
Oleh itu Takutlah kepada Allah wahai penduduk Islam.

Anak laki-laki juga demikian sebab ia lebih utama dan lebih pantas.
jaga secara terus menerus agar senantaiasa berdzikir kepada Allah, Shalat tepat pada waktu nya, berserta shalat sunnah rawatib dan sunnah-sunnah shalat. berlaku baik kepada kedua orang tua, merawati anak-anak nya, ta'at kepada suaminya dengan Ahlak yang baik di sertai dengan kesabaran, sebab hal itu adalah bagian dari ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dan bagian dari perbuatan ta'at yang tinggi kepada Rabb penguasa semesta, dan juga bagian dari Jihad. dan itu juga bagian perkara yang dapat meraih keridha'an Allah subhanahu wa ta'ala.
Tujuan dan maksud dari semua itu adalah karena Anak perempuan itu adalah Ibu dari masyarakat, dialah yang berkemas-kemas Rumah, Jika ia tumbuh menjadi besar dan berakal, serta terdidik, maka ia akan merawat anak-anak nya dengan sebaik-baiknya Ta'at kepada Rabb penguasa jagad, oleh sebab itu maka perkumpulan masyarakat akan menjadi baik, bercahaya, menjadi contoh dan suri tauladan.

Ibu adalah Sekolah dan kehidupan yang sempurna, Oleh itu seharusnya di persiapkan sejak dini.
sebagaimana yang telah di katakan, " Barangsiapa yang mendidik anak nya waktu kecil maka ia akan bahagia jika sudah besar.

Oleh itu, Mari dan marilah dalam mendidik anak-anak, didik di atas kenaikan, Tautkan hati mereka kepada Tuhan nya, Nabi nya, dan agamanya. sebab merekalah yang menjadi penyebab keselematan kalian kelak di hari kiamat, dan penyebab masuk nya ke tempat yang paling tinggi di syurga. Jika Tidak di didik dengan pendidikan yang baik maka ia akan menjadi bumerang, menjadi Siksa bagi kedua orang tua nya, penyebab kebinasaan bagi kedua orang tua nya, dan penyebab masuk nya kedalam api neraka. -wal iyadzu billah-

Nasihat Ini bersifat Umum, Beruntunglah orang yang mau menerima nasihat dan mengamalkan nya, Beruntung dan berbahagia. dan Orang yang berpaling dari nasihat ini, malas mengamalkan nya, Maka akibatnya adalah Kerugian dan terhalang dari kebaikan, kelak ia akan melihat perkara yang tidak membahagiakan hatinya di sebabkan oleh tingkah dan perilaku anak-anak dan keluarga nya.

Taufiq ada di tangan Allah yang Maha Agung.